KOMPAS.com - Di tempat paling ujung di utara bumi seperti Lapland, Finlandia, semua bisa menjurus menjadi ekstrem. Matahari musim panas menyalak seharian melelehkan alam.
Sementara pada musim dingin kegelapan menyelimuti dan segalanya membeku. Di musim dingin yang keras pula, suhu minus berpuluh-puluh derajat sudah biasa menghantui manusia dan mahluk hidup lainnya untuk mencari kehangatan dalam bertahan hidup.
Namun segala sesuatu yang ekstrem jika dipertemukan bisa menghasilkan titik tengah yang harmonis, menenangkan jiwa, dan menyehatkan raga. Ketika suhu super dingin bertemu dengan temperatur yang panas, maka tercipta semacam keseimbangan.
Kurang lebih itu yang saya rasakan ketika menjadi subjek tradisi berenang ke dalam lubang air es seperti beruang kutub dan mandi uap panas seperti cacing kepanasan.
Lebih dikenal sebagai Avanto atau Avantouinti di Finlandia. Berupa aktivitas adventurir ini dilakukan selama musim dingin ketika permukaan danau dan perairan membeku.
Kebiasaan ini berkaitan erat secara tradisional dengan sauna, yaitu setelah atau sebelum berenang orang biasa menghangatkan diri. Sebuah sumber rekreasi serta olahraga bagi seluruh keluarga dengan tradisi ribuan tahun.
Sauna sendiri memiliki tempat yang khusus di hati setiap orang Finlandia. Sauna merupakan tempat yang sakral dan sentral secara sosial kultural karena manfaatnya yang besar bagi kehidupan manusia di iklim dingin.
Tidak saja untuk mandi, membersihkan, maupun menghangatkan tubuh. Sauna bahkan digunakan secara tradisional sebagai tempat melahirkan, menyembuhkan penyakit, hingga membersihkan jasad mereka yang meninggal.
Seluruh siklus hidup manusia mulai dari lahir, hidup bersosialisasi, sakit, hingga wafat terjadi di sauna. Di sini, para manusia melepaskan gaun kebesaran mereka, bertelanjang kembali ke hidratnya bertemu.
Kemudian, berbagi dalam ruangan kayu yang memanaskan tubuh untuk berelaksasi, bersosialisasi atau berfilosofi dengan renungan masing-masing. Konon, berbagai keputusan politik dan bisnis bisa dicetuskan dalam sauna.
Saking cintanya warga Finlandia dengan sauna, kini sudah hampir 2 juta sauna privat dan publik. Angka ini melebihi jumlah mobil yang ada di seluruh negeri kecil berpopulasi 5 juta orang.
Kembali ke avanto, dengan bermodalkan nyali yang besar, jantung yang kuat, kulit yang tebal, dan terkadang baju renang. Berenang dan bersauna tanpa busana umum dilakukan dan sudah menjadi tradisi di sini.
Anda bisa sekedar mencelupkan diri ke dalam lubang air es atau bahkan berenang menyelam dari satu lubang dan mucul di lubang es yang lainnya layaknya penguin. Sebelum atau setelah itu, masuklah ke kabin sauna yang biasanya bertengger di pinggiran danau atau sungai untuk mandi uap demi menghangatkan diri.
Prosedur ini terdengar mudah, lamban, dan biasa dilakukan berulang kali kapan saja sesuka dan sekuat hati. Tetapi ketika Anda merasakannya sendiri untuk pertama kalinya, dijamin Anda lari setengah telanjang terbirit-birit beku kedinginan keluar dari lubang air es menuju surga (atau justru neraka?) sauna yang panas membakar kulit.
Setelah kenyang makan malam kuliner tradisional Lapland yang lezat, saya dan beberapa teman keluar dari pondok dengan pakaian tebal berlapis melawan angin kutub yang menusuk tulang dan merangsek maju melawan tebalnya salju.
Matahari sudah terbenam digantikan bulan dan bintang bercahaya menerangi malam. Sumber cahaya lainnya malam itu hanyalah sebuah lampu sorot seadanya dekat lubang air es di pinggir danau beku dan pondok sauna memancarkan kehangatan, memanggil kami masuk ke dalam.
Pondok sauna terbelah menjadi tiga ruangan besar. Sebuah ruang tamu dengan perapian menengahi ruang sauna untuk pria dan wanita di masing-masing sayap. Setiap ruangan sauna didampingi dengan ruang mandi umum dan ganti pakaian.
Riuh rendah penuh keceriaan dan kehangatan memenuhi ruangan. Mengingat kebanyakan mereka yang datang ke sauna malam itu merupakan mahasiswa internasional dari berbagai negara, tradisi Finlandia bersauna tanpa berbusana nampaknya kurang diminati.
Layaknya karakter komik super hero, kami dengan cepat melepaskan lapisan pakaian hangat hingga hanya pakaian renang melekat di badan. Sebelum masuk ke ruang sauna, kita bisa membilas diri dengan air di ruang mandi terlebih dahulu agar kulit tidak terlalu kering.
Ruang sauna didesain secara tradisional berdinding and beralaskan kayu, begitu pula dengan deretan bangku kayu bertingkat. Di pojokan, pot metal menampung bebatuan alam yang dipanaskan oleh kompor kayu bakar di luar ruangan.
Inilah sumber energi yang menghasilkan uap panas menyeruak ke seluruh ruangan. Sebuah ember dengan gayung kayu biasa ditempatkan di dekatnya. Kita bisa meningkatkan suhu panas dengan menyiram air dengan gayung ke bebatuan.
Seseorang baru saja memprovokasi bebatuan panas dengan air hingga mengepul. Bebatuan langsung mendesis sinis, tertantang untuk lebih memanaskan ruangan yang sudah seperti oven.
Uap panas tiba-tiba menyelimuti membakar kulit. Suhu ruangan kemungkinan sudah mencapai 80 derajat Celcius saat itu. Deretan tubuh duduk di atas bangku kayu beralaskan handuk mendesah, tak berdaya menikmati tamparan panas.
Wajah mulai merona kemerahan dan panas yang menstimulasi membiarkan seluruh pori tubuh terbuka membuang kotoran. Keringat mengucur mengingatkan saya akan teriknya Jakarta di siang bolong.
Beberapa gadis memulai percakapan kecil, lainnya terdiam dalam meditasi diri yang menenangkan. Suasana santai, tenang dan lentur terbangun sementara tubuh terasa menemui titik didih. Kami saling berpandangan: inilah saatnya.
Seperti dalam adegan film dalam gerakan lambat, segalanya menjadi begitu pelan meski kejadiannya hanya kurang dari semenit dan seluruh indera terjaga merekam semua kejadian. Setelah hitungan ketiga dan tarikan nafas yang dalam, kami berlari keluar pondok sauna.
Dengan bertelanjang kaki dan berpakaian renang, kami berlari sambil berloncat kesakitan seperti tertusuk ribuan paku karena rumput berselimut es salju yang dingin, bergerigi dan licin. Entah karena histeris atau terlalu amatir, kami sampai lupa memakai alas kaki.
Angin malam berhembus kencang membangunkan kulit yang sempat lemas terlelap karena lepuhan uap sauna. Sprint jarak sepuluh meter antara pondok sauna dengan kolam air es di danau membeku menjadi marathon paling menyiksa dalam hidup.
Sesampainya kami di tepi kolam air es, otak keram membeku sementara jantung berpacu sekencang kuda. Dengan bantuan mesin pompa, kolam air es yang gelap tercipta di pinggir danau beku.
Lampu pos menerangi kepulan uap dingin malah membuat nyali menciut. Tetapi tanpa berpikir panjang, kami berpegangan pada tambang panjang yang terikat pada pohon dekat kolam dan mulai menyelam ke dalam kegelapan air.
Waktu bersama tubuh untuk sesaat seperti berhenti membeku. Jantung seperti dihantam palu. Adrenalin memompa darah ke kepala. Listrik mengalir sepanjang tulang belakang, menghentak tubuh kembali dari komatos untuk berlari kembali ke pondok sauna mencari keselamatan dan kehangatan.
Dalam pelukan sauna, pukulan gelombang panas bertubi-tubi mengagresi tubuh yang kaku dingin. Kami berangsur sampai di surga tropis. Jiwa raga mencapai garis ekuator yang melegakan. Seluruh tubuh menjadi segar dan relaks. Sekarang kami mengerti kenapa semua orang di sini begitu tergila-gila dengan sauna.
Terbuai oleh kenikmatan lumer dalam panas, mimpi buruk neraka air dingin tiba-tiba hilang dari ingatan dan hanya meninggalkan ketagihan. Maka kali ini, kami mencoba tradisi ekstrem lainnya: berguling di atas salju.
Tidak ada teknik khusus, cukup merebahkan diri dan berguling tidak keruan di atas salju yang mengeras serta putuskan urat malu. Es salju kembali menusuk-nusuk sendi sementara angin dingin menyapu tubuh hingga gemetar kedinginan dan gigi bergemeletukan. Seperti manusia salju, dengan tubuh berlulurkan es, kami kembali ke surga sauna.
Memang awalnya, avanto dan sauna bisa menggoda kita berperang melawan diri sendiri. Sebuah ujian seberapa jauh kita tahan berada dalam kondisi ekstrem.
Tetapi inilah konsepsi yang keliru. Kompetisi internasional tahun lalu berusaha memecahkan rekor siapa yang bertahan paling lama dalam sauna dengan suhu hampir 100 derajat Celcius sudah memakan korban nyawa pesertanya dan menyalahi tradisi serta filosofi avanto dan sauna.
Aktivitas ini justru digemari karena bisa menjadi ajang bagi kita untuk mengenal diri sendiri. Mengetahui keterbatasan kita dan menikmatinya. Kita diajak bermain dengan batasan hidup.
Dengan cara menyeimbangkan kedua ekstrem elemen dingin dan panas menuju harmoni diri yang menyehatkan dan menyenangkan. Selamat mencoba! (IMY FERICA dari Helsinki, Finlandia)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang